Hit Enter to search or Esc key to close
Kampung Adat Jawa Barat

Destinasi Wisata Kampung Adat di Jawa Barat

Destinasi Wisata Kampung Adat di Jawa Barat

Kampung Adat Jawa Barat ,

Sebagai negara ke-4 dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia, tercatat lebih dari 300 suku bangsa yang ada di Indonesia. Sudah pasti, setiap suku memiliki budaya dan adat istiadatnya masing-masing. Di tengah pesatnya arus modernisasi dan pembangunan gedung pencakar langit, ternyata masih ada, lho, orang-orang yang hidup dengan mempertahankan budaya leluhur mereka. Karena keunikan cara hidupnya, tempat tinggal mereka menjadi destinasi wisata kampung adat. Penasaran dengan lokasi dan keseharian penduduknya? Ini dia, 9 kampung adat yang bisa sobat traveler kunjungi di Jawa Barat:

1. Kampung Pulo – Garut

Kampung PuloGarut memang dikenal sebagai kota dodol dan pusatnya kerajinan berbahan kulit. Tapi, enggak hanya itu, Garut juga menyimpan berbagai potensi wisata. Bentang alam Garut yang terdiri dari dataran tinggi dan pantai punya puluhan spot indah yang bisa dinikmati sebagai tempat wisata. Selain menikmati wisata alam, di Garut juga kita bisa berwisata budaya, lho. Salah satunya dengan mengunjungi Kampung Pulo, di Kecamatan Leles, sekitar 14 km dari Kota Garut.

Kampung Pulo terletak di Pulau Panjang, sebuah pulau kecil di tengah Situ Cangkuang. Di pulau ini juga terdapat Candi Cangkuang, sebuah candi Hindu yang dibangun pada abad ke-8. Keunikan Kampung Pulo ini adalah hanya terdapat 6 kepala keluarga yang merupakan keturunan Embah Dalem Arief Muhammad, penyebar Islam di sekitar Situ Cangkuang.

Ke-6 rumah ini merupakan rumah adat dengan bentuk rumah panggung, 3 buah rumah di sisi sebelah kiri dan 3 lainnya di sebelah kanan, ditambah 1 masjid sebagai tempat ibadah. Rumah-rumah ini dibangun oleh Embah Dalem Arief Muhammad untuk 6 anak perempuannya, sedangkan masjid merupakan simbol untuk anak laki-lakinya yang sudah meninggal. Berbeda dengan budaya Sunda lainnya, di Kampung Pulo warisan rumah jatuh pada anak perempuan.

Keturunan Embah Dalem Arief Muhammad diperbolehkan untuk menikah dengan penduduk Kampung Pulo ataupun penduduk luar. Setelah menikah, mereka diharuskan untuk keluar kampung. Bila ada keluarga yang meninggal dunia, barulah keluarga lain bisa menempati rumah di Kampung Pulo dengan diadakan musyawarah terlebih dulu.

2. Kampung Naga – Tasikmalaya

kampung nagaIngin menenangkan diri dari hiruk-pikuk perkotaan? Datanglah ke Kampung Naga di Desa Neglasari, Tasikmalaya. Kampung ini menolak arus modernisasi yang ditunjukkan masyarakatnya dengan tidak menggunakan listrik. Selain ketenangan, kampung adat ini juga menawarkan pemandangan persawahan hijau yang bisa memanjakan mata pengunjung.

Rumah di sini lebih banyak dari Kampung Pulo, yaitu berjumlah 112. Tetapi, hanya dihuni oleh 109 kepala keluarga. Tiga bangunan lainnya digunakan sebagai masjid, ruang serba guna, dan lumbung padi. Rumah-rumah di sini seragam, terdiri dari satu ruang tamu, satu kamar tidur, satu dapur, dan satu toilet yang berada di luar rumah. Keunikan lainnya adalah rumah di sini tidak dikunci pada malam hari. Mereka yakin tidak ada pencuri karena semua penduduk Kampung Naga memegang teguh nilai luhur adat istiadat Sunda.

3. Kampung Adat Kuta – Ciamis

kampung adat kutaSebagian dari sobat traveler pasti sering mendengar kata Pamali dalam bahasa Indonesia berarti tabu. Di Ciamis, tepatnya di Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, ada sebuah kampung yang masih menjaga nilai-nilai pamali tersebut, yaitu Kampung Adat Kuta. Budaya pamali ini tetap dilestarikan oleh masyarakat setempat untuk menjaga keharmonisan alam yang telah memberi mereka hasil untuk dinikmati dalam kehidupan sehari-hari. Sama seperti dua kampung adat sebelumnya, rumah di sini juga seragam. Dibangun dengan struktur rumah panggung beratap daun rumbia.

Selain budaya pamali, masyarakat Kampung Adat Kuta juga masih taat menjalankan upacara adat mereka yaitu Upacara Nyuguh yang dilaksanakan sebelum tanggal 25 Shafar berdasarkan kalender Hijriah. Masyarakat di sini mempercayai bahwa mereka harus menjalankan upacara adat ini di pinggir Sungai Cijolang untuk mendapat berkah hasil panen. Upacara ini terbuka untuk umum, lho. Sobat traveler bisa melihat ritual adat masyarakat Kampung Kuta, dan menyaksikan hiburan pada malam harinya. Nah, kalau tertarik untuk berkunjung, kampung adat ini juga menyediakan fasilitas home stay. Jangan bayangkan fasilitas home stay ini seperti hotel ya, sebab sobat traveler akan menginap di rumah warga. Dengan begitu, sobat traveler bisa merasakan hidup sebagai masyarakat adat di Kampung Kuta.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 views